Meruntuhkan Mitos: Bagaimana Konstruksi Gender Membatasi Kekuatan Perempuan

  • Whatsapp

Oleh : T.H. Hari Sucahyo*

Mitos kekuatan berbasis gender tidak pernah lahir dari bukti ilmiah, melainkan dari konstruksi budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Sejak kecil, banyak perempuan tumbuh dengan pesan-pesan halus bahwa tubuh mereka rapuh, bahwa kekuatan fisik adalah wilayah laki-laki, dan bahwa aktivitas berat bukanlah bagian dari identitas mereka. Narasi semacam ini tidak hanya membentuk cara masyarakat memperlakukan perempuan, tetapi juga cara perempuan memandang dirinya sendiri. Dalam konteks aktivitas fisik, mitos tersebut memunculkan kesenjangan yang begitu lebar antara laki-laki dan perempuan—sebuah kesenjangan yang terus bertahan bukan karena kapasitas biologis, tetapi karena batas-batas sosial yang diciptakan dan dipelihara oleh budaya.

Sejak usia dini, perempuan sering diberi batasan: jangan lari terlalu kencang, jangan bermain kasar, jangan angkat yang berat karena itu “pekerjaan laki-laki”. Di sekolah, anak laki-laki diberi ruang untuk mengambil risiko dan dianggap wajar ketika mereka memanjat, berlari, melompat, atau bergulat. Sebaliknya, ketika anak perempuan melakukan hal yang sama, mereka sering kali dinilai tidak sopan, tidak anggun, atau “tidak feminin”. Pelajaran olahraga pun tidak luput dari bias: anak laki-laki didorong untuk berkompetisi sementara anak perempuan diajak untuk berpartisipasi dengan cara yang lebih lembut. Semua itu menjadi awal mula internalisasi gagasan bahwa tubuh perempuan bukanlah tubuh yang diciptakan untuk kekuatan.

Padahal secara biologis, perempuan memang memiliki komposisi otot dan hormon yang berbeda, tetapi perbedaan itu tidak berarti keterbatasan absolut. Tubuh perempuan mampu membangun kekuatan, ketahanan, dan kemampuan fisik yang luar biasa. Banyak penelitian menunjukkan bahwa dengan latihan yang setara, perempuan dapat meningkatkan massa otot, kekuatan, serta performa fisik dalam skala yang sama efektifnya dengan laki-laki, meskipun dengan angka absolut yang berbeda. Namun, keyakinan sosial jauh lebih kuat daripada fakta ilmiah. Akibatnya, banyak perempuan tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi potensi fisiknya, karena mereka telah sejak awal meyakini bahwa kekuatan bukanlah bagian dari identitas mereka.

Kesenjangan aktivitas fisik juga diperkuat oleh representasi media. Iklan, film, dan budaya populer sering menampilkan perempuan kuat hanya sebagai pengecualian, bukan sebagai sesuatu yang normal. Bahkan pusat kebugaran, yang seharusnya menjadi ruang inklusif, sering kali menjadi tempat perempuan merasa diawasi atau dinilai. Banyak perempuan enggan masuk ke area angkat beban karena takut dipandang aneh, takut salah teknik dan dinilai, atau takut dianggap ingin menjadi “terlalu maskulin”. Sementara itu, laki-laki lebih bebas mengeksplorasi ruang itu tanpa beban penilaian. Lingkungan semacam ini menciptakan hambatan mental yang tidak terlihat; hambatan yang jauh lebih kuat daripada berat barbel itu sendiri.

Faktor sosial lainnya adalah beban peran gender yang masih melekat kuat. Perempuan sering kali menghabiskan lebih banyak waktu untuk pekerjaan domestik dan pengasuhan, bahkan ketika mereka juga bekerja penuh waktu. Dengan demikian, waktu dan energi mereka untuk aktivitas fisik sering kali terpangkas. Sebaliknya, laki-laki lebih sering diberi keleluasaan untuk memiliki waktu pribadi, termasuk waktu untuk olahraga. Kondisi tersebut membuat aktivitas fisik perempuan bukan hanya persoalan motivasi, tetapi persoalan struktur sosial: perempuan harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan ruang berolahraga, sementara laki-laki dianggap pantas memilikinya tanpa perlu pembenaran.

Selain itu, ada pula ketakutan akan stigma sosial. Ketika seorang perempuan mulai aktif berolahraga secara intens, terutama dalam aktivitas yang identik dengan kekuatan seperti angkat beban atau bela diri, ia bisa saja mendapat komentar seperti “nanti jadi terlalu berotot”, “nanti nggak cantik”, atau “kok kayak laki-laki?”. Komentar-komentar ini menunjukkan bahwa masyarakat masih mengikatkan nilai feminin pada kelemahan fisik, seolah keanggunan hanya bisa tumbuh dari kerapuhan. Masyarakat mendefinisikan perempuan melalui standar yang tidak masuk akal; harus kuat tapi tidak terlalu kuat, sehat tapi tidak terlalu atletis, bugar namun tetap “lembut”. Standar-standar ganda seperti inilah yang membentuk tekanan psikologis yang membuat banyak perempuan mundur sebelum benar-benar memulai.

Sementara itu, sistem pendidikan dan fasilitas publik juga ikut mempertahankan kesenjangan ini. Di banyak daerah, akses perempuan terhadap ruang aman untuk berolahraga masih terbatas. Banyak lapangan kosong yang didominasi laki-laki, sementara perempuan harus mencari waktu tertentu agar merasa aman dan tidak dilecehkan. Rasa takut terhadap pelecehan di ruang publik membuat aktivitas fisik luar ruangan menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan. Ini bukan sekadar ketidaknyamanan, tetapi hambatan struktural yang terus membatasi kesempatan perempuan untuk bergerak bebas.

Di dunia kerja, hal serupa terjadi. Banyak perusahaan tidak menyediakan program kesehatan atau olahraga yang inklusif bagi perempuan. Bahkan, ketika mereka menyediakan fasilitas olahraga, lingkungan tersebut sering kali tidak dirancang dengan perspektif keamanan dan kenyamanan perempuan. Hal-hal kecil seperti ruang ganti yang kurang memadai, kurangnya instruktur perempuan, atau sesi olahraga yang dipenuhi laki-laki bisa menjadi alasan mengapa perempuan memilih untuk tidak ambil bagian.

Di sisi lain, mitos gender mengenai kekuatan juga membentuk pola pikir perempuan terhadap dirinya sendiri. Banyak perempuan tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka lemah secara alami. Keyakinan itu menjadi semacam nubuatan yang terpenuhi dengan sendirinya: ketika perempuan percaya mereka tidak cukup kuat, mereka jadi kurang percaya diri mencoba aktivitas yang menuntut kekuatan fisik, sehingga mereka benar-benar tidak berkembang secara fisik. Ini bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka tidak pernah diberi ruang untuk mencoba. Filsuf Simone de Beauvoir pernah mengatakan bahwa seseorang menjadi perempuan, bukan terlahir sebagai perempuan. Dalam konteks ini, dapat kita katakan bahwa seseorang menjadi lemah bukan karena kodrat biologisnya, tetapi karena konstruksi sosial yang membuat perempuan merasa demikian.

Lebih jauh lagi, kesenjangan dalam aktivitas fisik memiliki konsekuensi serius bagi kesehatan perempuan. Tingginya angka penyakit tidak menular, kecemasan, depresi, dan kelelahan kronis pada perempuan selalu terkait dengan rendahnya aktivitas fisik. Namun masyarakat sering melihat masalah ini dari perspektif individu, seolah perempuan kurang disiplin atau kurang peduli pada kesehatan. Padahal, persoalannya jauh lebih sistemik: perempuan memang hidup dalam struktur yang tidak memberi mereka ruang, waktu, atau dukungan untuk aktif secara fisik.
Untuk menghapus kesenjangan ini, kita memerlukan perubahan dari berbagai sisi. Pertama, kita harus membongkar mitos-mitos yang membatasi perempuan. Kekuatan bukanlah atribut maskulinitas; kekuatan adalah kemampuan manusia. Perempuan berhak memiliki tubuh yang kuat, lentur, dan terlatih, tanpa harus takut dinilai tidak feminin. Ketika masyarakat berhenti mengasosiasikan kekuatan dengan laki-laki, perempuan akan memiliki lebih banyak ruang untuk mengeksplorasi kemampuan mereka sendiri.

Kedua, lingkungan fisik dan sosial harus lebih inklusif. Pusat kebugaran harus menciptakan ruang aman bagi perempuan, bukan hanya dari sisi keamanan fisik tetapi juga dari segi rasa nyaman. Instruktur perlu dilatih untuk menyadari bias gender dan menghindari komentar stereotip. Fasilitas publik harus dirancang agar perempuan bisa beraktivitas tanpa rasa takut. Bahkan langkah sederhana seperti menyediakan area olahraga yang lebih ramah perempuan dapat memberi perubahan besar.

Ketiga, keluarga dan sekolah memiliki peran penting. Anak perempuan perlu diberi kesempatan yang sama untuk memanjat, berlari, menendang bola, dan melakukan aktivitas fisik tanpa batasan gender. Mereka perlu melihat model perempuan yang kuat, baik di media maupun di lingkungan sekitar mereka. Ketika seorang anak perempuan tumbuh dengan keyakinan bahwa kekuatan adalah haknya, ia tidak akan mudah percaya bahwa dirinya lemah.

Mitos kekuatan berbasis gender membuat perempuan tampak lebih lemah bukan karena mereka benar-benar lemah, tetapi karena masyarakat terus membentuk mereka menjadi demikian. Kekuatan perempuan selama ini bukan sesuatu yang hilang, tetapi sesuatu yang ditahan. Untuk membangun dunia yang lebih setara, kita tidak hanya harus memberi perempuan ruang untuk menjadi kuat, tetapi juga harus membebaskan mereka dari narasi yang sejak lama mengkerdilkan potensi mereka. Ketika perempuan diberi kesempatan yang sama untuk bergerak, berlatih, dan berkembang, mereka tidak hanya akan menjadi lebih kuat secara fisik, tetapi juga lebih bebas dari mitos, bebas dari batasan, dan bebas untuk menentukan kembali apa arti kekuatan bagi diri mereka sendiri.
_____
* Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *