Oleh: Theresia Yunita Tan
(Catatan dari Survivor Wealth Summit 2025, 11-14 Agustus)
Agustus lalu, Sri Mulyati, Sugih Hartini dan Yunita berkesempatan menghadiri sebuah forum internasional yang sangat berharga, yaitu Survivor Wealth Summit 2025 di Los Angeles, Amerika Serikat. Forum ini menghadirkan lebih dari 600 peserta yang terdiri dari penyintas kekerasan, aktivis gender, advokat, akademisi, serta pembuat kebijakan. Suasana yang tercipta bukan sekadar konferensi biasa, melainkan ruang penuh energi, harapan, dan kolaborasi lintas organisasi untuk membangun masa depan yang lebih aman dan adil bagi para penyintas kekerasan berbasis gender.
Salah satu isu penting yang dibahas dalam Summit adalah hubungan erat antara kekerasan berbasis gender dengan keuangan penyintas. Banyak korban kekerasan, terutama perempuan dengan anak, terjebak dalam lingkaran kekerasan karena tidak memiliki kemandirian finansial. Pelaku kerap mengontrol akses terhadap sumber daya, mulai dari nafkah, kesempatan kerja, bahkan akses ke rekening korban.
Summit ini dirancang sebagai respon holistik terhadap kekerasan berbasis gender. Kegiatan tidak hanya berupa diskusi dan lokakarya, melainkan juga ruang penyembuhan, konsultasi dengan para pakar, serta pasar komunitas yang semuanya diinisiasi oleh penyintas.
Melalui berbagai sesi diskusi, peserta belajar tentang strategi membangun kemandirian ekonomi penyintas, misalnya akses pendanaan, pengelolaan usaha kecil, penguatan kapasitas branding, manajemen keuangan, hingga strategi advokasi agar kebijakan publik lebih berpihak pada penyintas. Pertanyaan besar yang terus digaungkan adalah: “Bagaimana menjadikan keamanan finansial sebagai fokus jangka panjang dalam mendukung penyintas?”


Membangun Kekuatan Ekonomi Kolektif
Summit ini diselenggarakan oleh FreeFrom, organisasi nasional di Amerika Serikat yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi penyintas kekerasan. FreeFrom menekankan pendekatan sistemik, bukan sekadar program hibah jangka pendek. Salah satu inisiatif unggulannya adalah Gifted, sebuah unit social enterprise yang sepenuhnya digerakkan oleh penyintas.
Gifted bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga ruang pemulihan yang produktif. Para penyintas berkarya bersama. Mereka dapat membuat sabun, minyak aromaterapi, hingga dekorasi rumah. Seluruh keuntungan dikembalikan untuk mendukung kesejahteraan dan keamanan penyintas. Di hari terakhir Summit, Gifted memfasilitasi sebuah bazar komunitas. Para penyintas mengisi stand penjualan, produk yang ditawarkan sangat kreatif dan dapat dibuat dengan alat sederhana. Di sini, kami belajar bahwa penyintas tidak hanya identik dengan kisah penderitaan, melainkan juga kekuatan untuk bangkit, berdaya, dan membuka jalan baru.
Kami sangat terkesan dengan kekuatan kolektif para penyintas yang diorganisir oleh FreeFrom. Tentu ini hasil dari pengorganisasian bertahun-tahun, hingga Summit ini bisa menghadirkan beragam fasilitas secara cuma-cuma, dari para penyintas untuk dinikmati oleh semua penyintas yang hadir. Mulai dari stand makanan dan minuman, kelas-kelas tematik, hingga merchandise. Panitia penyelenggara juga mempertimbangkan ragam kondisi peserta dan menyiapkan ruang bermain anak, ruang laktasi, kelas meditasi, hingga layanan psikolog. Semua detail ini mencerminkan kepedulian bahwa setiap orang berhak merasa aman, nyaman, dan mendapatkan dukungan penuh.


Refleksi
Partisipasi dalam Survivor Wealth Summit 2025 memberikan inspirasi besar bagi kami. Ternyata narasi tentang penyintas dapat berubah secara transformatif: dari sekadar objek belas kasihan, menjadi subjek yang memiliki kekuatan, kreativitas, dan kapasitas untuk memimpin perubahan bagi diri dan keluarganya.
Pengalaman ini sekaligus menyemangati pengelola Yayasan SAPA untuk mulai melakukan pengorganisasian penyintas dengan semangat inklusif dan memperkuat kapasitas ekonomi penyintas di Indonesia, khususnya di Kabupaten Bandung. Dengan semangat kolaborasi, kami percaya bahwa masa depan yang bebas dari kekerasan dan penuh keberdayaan bukanlah mimpi, melainkan tujuan nyata yang dapat diwujudkan bersama.***







