Catatan Kecil di Hari Ibu

  • Whatsapp
Seni papercut karya seniman Jerman Jo Chorny

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh lewati  rintang untuk aku anakmu….ibuku sayang masih terus berjalan walau tapak kaki penuh darah penuh nanah…

Kutipan syair lagu “Ibu” dari Iwan Fals ini masih sering kita dengar atau justru kita memutarnya kembali dan terus memutarnya berulang-ulang. Lagu tersebut menceritakan sosok seorang perempuan kuat, gigih dan tidak pantang menyerah untuk memperjuangkan hak hidup anaknya.

Perempuan secara kata dasar diambil dari kata “empu” yang kemudian mendapat imbuhan awalan “per” dan akhiran “an”. Sehingga kata ini sering kali di maknai dengan nahkoda, sarjana, ahli, pemilik, yang menguasai. Maka dari arti kata tersebut, kata perempuan bisa dimaknai dengan seorang empu yang ahli menguasai, dan sebagai nakhoda kehidupan dalam semua hal kehidupan.

Dalam ajaran Islam sosok perempuan sangat dimuliakan. Bahkan bisa dikatakan posisi perempuan mencapai puncak peradabannya di bawah naungan praktik kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Hal ini berbanding terbalik dengan posisi perempuan sebelum Islam datang baik di masa jahiliyah atau bahkan ribuan tahun sebelumnya.

Lintasan sejarah peradaban memotret bagaimana perempuan hanya dilihat sebagai makhluk “setengah manusia”, hanya dijadikan objek seksual, dijadikan taruhan dalam meja judi, dianggap tidak mengangkat derajat keluarga bahkan bisa dikubur hidup-hidup ketika diawal kelahirannya.

Praktik tersebut berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun sebelum adanya kesadaran bahwa perempuan adalah saudara kandung laki-laki yang diciptakan dari bahan yang sama dan sumber yang sama pula. Sehingga sosok perempuan ini pun mempunyai potensi untuk berkembang baik secara individual, sosial, intelektual dan spiritual.

Perempuan bisa mencapai puncak kesempurnaan kemanusiaannya tanpa terhalangi dengan jenis kelaminnya. Dalam  bahasa lain, jenis kelamin seseorang bukanlah faktor esensial seorang bisa lebih bermartabat dan bisa memberikan kebermanfaatan  kepada lingkungan di sekitarnya.

Eksistensi perempuan setiap tahun selalu diperingati baik secara internasional dan nasional, seperti peringatan internasional Mother Day atau Hari Ibu yang kita peringati setiap tanggal 22 Desember. Khusus untuk di negeri kita Indonesia, seringkali peringatan hanya bersifat selebritas, festival dan seremonial. Belum menyentuh pada hal-hal yang bersifat reflektif dan substantif. Salah satu hal yang bersifat substantif itu adalah bagaimana peringatan ini menjadi momentum kebangkitan kaum perempuan.

Beruntung akhir-akhir ini peringatan sudah bergeser  dengan pemaknaan sebagai hari pergerakan perempuan. Agenda besar gerakan perempuan berkolaborarif dengan semua komponen bangsa hari ini di Indonesia adalah mendorong untuk segera disahkannya Rancangan Undang-undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU-TPKS).

Urgensi keberadaan Undang-undang ini sebagai payung hukum yang secara regulatif dirancang mampu mengisi kekosongan hukum bagi perempuan korban kekerasan seksual yang membutuhkan hak perlindungan, keadilan dan pemulihan. Dengan mendorong disahkannya RUU ini, merupakan upaya kita bersama menempatkan sosok perempuan di tempat yang terhormat dan mulia. Wallahu alam bis-showab.***

 

Iman Soleh Hidayat, Sapa Institute dan pegiat Forum Kajian Paramuda Persis (FKPP)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *