Indramayu – Upaya meningkatkan kesadaran kesehatan dan pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) bagi orang muda kembali diperkuat melalui penyelenggaraan Posyandu Remaja Desa Tugu pada Sabtu, 22 Februari 2025. Kegiatan yang dilaksanakan di Balai Desa Tugu itu menjadi salah satu langkah konkrit desa dalam menyediakan layanan kesehatan ramah remaja serta ruang edukasi yang bersifat partisipatif.
Posyandu Remaja ini merupakan implementasi lanjutan dari program Right Here Right Now 2 (RHRN2) yang diinisiasi Yayasan Sapa dengan dukungan Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI). Sebanyak 85 peserta hadir dalam kegiatan ini, terdiri dari kelompok usia 7–19 tahun, 20–24 tahun, hingga 35 tahun ke atas. Sebagian besar peserta merupakan remaja, dengan komposisi 41 perempuan dan 24 laki-laki, sementara peserta dewasa dihadiri oleh perwakilan orang muda, PLK, dan komunitas pendukung lainnya.
Tingginya antusiasme peserta mencerminkan kebutuhan besar masyarakat desa terhadap layanan kesehatan reproduksi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Indramayu tahun 2023 menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia muda (20–29 tahun) mencapai 309.360 jiwa, menjadikan kelompok ini sebagai salah satu populasi terbesar di kabupaten tersebut. Kondisi ini membawa tantangan tersendiri, terutama mengingat berbagai persoalan kesehatan seksual dan reproduksi masih ditemukan di kalangan orang muda, seperti kehamilan tidak diinginkan, perkawinan anak, kekerasan dalam pacaran, HIV/AIDS, hingga kekerasan seksual.
Rangkaian kegiatan Posyandu Remaja dirancang untuk menjawab kebutuhan tersebut. Kegiatan difasilitasi oleh tim RHRN2, PLK Desa Tugu, PLK Universitas Wiralodra, serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Sliyeg yang berperan dalam memberikan layanan medis. Proses kegiatan diawali dengan pendaftaran peserta, dilanjutkan dengan pengukuran tinggi badan, berat badan, dan pemeriksaan tekanan darah. Tahapan pemeriksaan ini menjadi dasar untuk mendeteksi potensi anemia dan masalah kesehatan lainnya yang cukup sering dialami remaja.
Setelah pemeriksaan fisik, peserta diarahkan menuju sesi konseling kesehatan yang memberikan informasi dasar mengenai kondisi tubuh, pola hidup sehat, serta risiko kesehatan yang mungkin mereka hadapi. Layanan kemudian dilanjutkan dengan konseling kesehatan mental yang dilakukan oleh konselor sebaya dari PLK Universitas Wiralodra. Pendekatan ini memungkinkan remaja untuk berbagi perasaan secara lebih nyaman, mengingat konseling dilakukan oleh orang muda dengan rentang usia yang dekat dengan peserta.
Salah satu yang menarik dari pelaksanaan Posyandu Remaja kali ini adalah penggabungan layanan kesehatan dengan pentas seni musik yang merupakan kegiatan rutin anak-anak muda Desa Tugu. Penggabungan ini dilakukan sebagai strategi untuk meningkatkan partisipasi remaja. Kehadiran hiburan musik membuat remaja lebih antusias hadir, sekaligus membuka kesempatan bagi mereka untuk mengakses layanan kesehatan tanpa rasa canggung. Pendekatan ini terbukti efektif dalam menarik minat remaja dan menjadikan kegiatan posyandu lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Melalui integrasi hiburan dan kesehatan, penyelenggara berharap orang muda dapat memperoleh manfaat kesehatan tanpa merasa seperti mengikuti kegiatan formal yang terlalu kaku. Selain itu, konselor sebaya juga memiliki ruang lebih luas untuk menjangkau remaja, membantu mereka mengungkapkan emosi, mengatasi tekanan yang dialami, serta memahami pentingnya perlindungan diri dari bullying maupun kekerasan seksual.
Kegiatan ini tidak hanya menyasar aspek layanan, tetapi juga memperkuat kapasitas Pusat Layanan Komunitas (PLK) yang selama ini menjadi motor penggerak edukasi HKSR di tingkat desa dan kampus. Dengan melibatkan PLK Desa Tugu, PLK Universitas Wiralodra, Puskesmas Sliyeg, dan Pemerintah Desa Tugu, kegiatan Posyandu Remaja menunjukkan sinergi lintas lembaga yang semakin kuat dalam menyediakan layanan ramah orang muda.
Meskipun kegiatan berjalan dengan baik, beberapa tantangan juga teridentifikasi. Salah satunya adalah kebutuhan untuk memastikan kegiatan seperti ini dapat berlangsung secara rutin dan berkelanjutan, terutama dengan mempertahankan integrasi layanan kesehatan, konseling, dan kegiatan kreatif. Selain itu, masih diperlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman orang muda yang lebih luas mengenai pentingnya memeriksakan kesehatan reproduksi secara berkala.
Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Desa Tugu diharapkan memberikan dukungan melalui alokasi anggaran desa agar Posyandu Remaja dapat terus berjalan secara terstruktur. Penguatan mekanisme pembiayaan, penyediaan fasilitas, dan dukungan kebijakan akan menjadi faktor penting dalam memastikan akses layanan kesehatan remaja tetap terbuka di masa mendatang.
Dengan pelaksanaan kegiatan Posyandu Remaja ini, Desa Tugu menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung kesehatan dan kesejahteraan orang muda. Pendekatan berbasis komunitas, ruang ramah remaja, dan integrasi layanan kesehatan diharapkan mampu menciptakan generasi muda yang lebih sehat, sadar, dan siap menghadapi tantangan perkembangan zaman.***







