Pemdes Tugu Pertimbangkan Anggaran Posyandu Remaja, Aspirasi Orang Muda Disambut Positif

  • Whatsapp

Indramayu – Upaya memperkuat peran dan kapasitas orang muda dalam pembangunan desa memasuki babak baru di Desa Tugu, Kabupaten Indramayu. Hal ini terungkap dalam kegiatan “Suara Orang Muda: Audiensi PLK Tugu dengan Pemerintah Desa” yang berlangsung pada Selasa, 21 Januari 2025, di Balai Desa Tugu. Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog untuk membahas keberlanjutan program pemberdayaan remaja, khususnya Posyandu Remaja dan edukasi Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR).

Audiensi yang diinisiasi oleh Yayasan Sapa melalui program Right Here Right Now (RHRN2) tersebut dihadiri 13 peserta dari berbagai unsur. Mereka berasal dari Pemerintah Desa Tugu, Pusat Layanan Komunitas (PLK) Desa Tugu, serta Yayasan Selendang Puan Dharma Ayu. Forum ini difasilitasi oleh Field Officer, Yuyun Khoerunnisa, yang sejak awal menekankan pentingnya pelibatan bermakna orang muda dalam setiap proses pembangunan.

“Orang muda bukan hanya objek program, tetapi aktor penting yang perlu terlibat sejak tahap perencanaan. Posyandu Remaja adalah salah satu ruang yang bisa memperkuat kapasitas mereka, namun keberlanjutannya memerlukan dukungan kebijakan dan anggaran yang jelas dari pemerintah desa,” tutur Yuyun.

Dalam penyampaiannya, Yuyun menegaskan bahwa edukasi HKSR adalah kebutuhan fundamental. Minimnya informasi yang benar, anggapan tabu di masyarakat, serta kecenderungan remaja mencari informasi dari sumber yang tidak kredibel menjadi persoalan yang harus ditangani secara sistematis. Ia menyampaikan bahwa PLK Desa Tugu telah berupaya menjadi wadah edukasi alternatif, namun keberlanjutan program tidak dapat bergantung pada inisiatif komunitas semata.

Sementara itu, perwakilan PLK Desa Tugu menyampaikan beberapa temuan lapangan terkait kondisi remaja. Mereka menyoroti gejala pernikahan anak, kebingungan identitas diri pada masa pubertas, hingga kurangnya ruang ekspresi dan partisipasi bagi remaja di tingkat desa. “Kami melihat kebutuhan besar bagi remaja untuk mendapatkan ruang belajar yang aman dan pendampingan yang tepat. Posyandu Remaja bisa menjadi jawaban, tetapi harus ada dukungan anggaran,” ujar salah satu anggota PLK.

Poin utama audiensi adalah penyampaian resmi usulan kepada Pemerintah Desa Tugu untuk mengalokasikan anggaran yang lebih kuat bagi pengembangan Posyandu Remaja. Usulan tersebut mencakup kegiatan edukasi HKSR, pelatihan kapasitas remaja, pendampingan individu, hingga pelibatan remaja dalam forum-forum desa. PLK juga menekankan bahwa program RHRN2 akan berakhir pada 2025, sehingga desa perlu memiliki strategi keberlanjutan agar kegiatan tidak terhenti.

Menanggapi hal ini, Pemerintah Desa Tugu menyampaikan apresiasi atas inisiatif dan kepedulian orang muda. Perwakilan pemerintah desa menegaskan bahwa pihaknya membuka ruang bagi pemuda untuk terlibat dalam pembangunan desa. “Usulan ini sangat relevan dan penting. Kami memahami bahwa remaja adalah kunci masa depan desa, dan edukasi kesehatan reproduksi adalah investasi jangka panjang. Pemerintah desa siap mempertimbangkan penganggaran sekitar Rp7 juta per tahun untuk mendukung kegiatan Posyandu Remaja,” ungkap salah satu perwakilan Pemdes.

Ia juga menambahkan bahwa pemerintah desa siap mengkaji kemungkinan penyusunan Peraturan Desa (Perdes) tentang Posyandu Remaja jika diperlukan. “Jika dibutuhkan aturan yang memperkuat program ini, kami siap membahasnya lebih lanjut. Prinsipnya, kami ingin program ini berjalan baik dan memberi manfaat langsung bagi remaja.”

Meskipun demikian, audiensi juga menyoroti beberapa tantangan. Salah satunya adalah memastikan bahwa anggaran yang dialokasikan benar-benar terealisasi dan digunakan secara optimal. PLK mengingatkan perlunya mekanisme pengawasan bersama, termasuk pelibatan remaja dalam monitoring kegiatan. Tantangan lainnya adalah perlunya pendampingan berkelanjutan dari pihak desa dan komunitas agar program tidak hanya berjalan formalitas.

Yuyun menegaskan pentingnya kolaborasi. “Pemerintah desa tidak bisa bekerja sendiri, begitu juga sebaliknya. Orang muda harus menjadi bagian dari proses ini, baik sebagai penerima manfaat maupun sebagai penggerak kegiatan,” ujarnya.

Audiensi ini menjadi momentum penting bagi Desa Tugu dalam memperkuat kebijakan ramah remaja. Dengan komitmen pemerintah desa, kegiatan Posyandu Remaja diharapkan dapat berjalan lebih terstruktur dan berkelanjutan. Selain itu, pelibatan orang muda yang lebih bermakna dapat menjadi fondasi dalam mempersiapkan generasi produktif menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.

Forum ditutup dengan harapan bahwa sinergi antara pemerintah desa, komunitas, dan lembaga pendamping dapat terus terjalin sehingga program-program yang memberikan manfaat bagi remaja dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.***

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *