Indramayu – Upaya memperkuat ruang aman bagi orang muda di lingkungan kampus kembali diperkuat melalui kegiatan Diskusi Reguler bertema “Membangun Komunitas yang Aman dan Nyaman Bagi Orang Muda” yang diselenggarakan pada Rabu, 5 Februari 2025 di Auditorium Universitas Wiralodra. Kegiatan ini diinisiasi oleh Yayasan Selendang Puan Dharma Ayu dan Yayasan Sapa dengan dukungan Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI) melalui program Right Here Right Now 2 (RHRN2).
Sebanyak 33 peserta hadir dalam kegiatan ini, seluruhnya merupakan orang muda dari rentang usia 10–35 tahun, dengan mayoritas perempuan. Peserta yang hadir berasal dari lingkungan Universitas Wiralodra, terutama dari PIKMA Wiralodra yang menjadi salah satu Pusat Layanan Komunitas (PLK) aktif dalam program penguatan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR). Kehadiran peserta dalam jumlah besar menunjukkan meningkatnya minat orang muda terhadap isu ruang aman dan pengembangan kapasitas organisasi.
Kegiatan ini dilaksanakan untuk menjawab berbagai permasalahan yang selama ini dihadapi orang muda di Indramayu. Berdasarkan data BPS, penduduk usia 20–29 tahun mencapai 309.360 jiwa pada tahun 2022, menjadikan kelompok muda sebagai populasi terbesar di daerah tersebut. Namun, penelitian dan diskusi sebelumnya mengungkapkan munculnya berbagai persoalan yang berkaitan dengan kesehatan seksual dan reproduksi seperti kehamilan tidak diinginkan, perkawinan anak, kekerasan dalam pacaran, HIV/AIDS, serta kekerasan seksual. Penyebab utama persoalan tersebut adalah minimnya ruang edukasi dan stigma yang masih melekat pada pembahasan HKSR.
Di lingkungan kampus, permasalahan terkait relasi sosial, komunikasi internal organisasi, dan rendahnya pemahaman isu HKSR juga turut memengaruhi dinamika organisasi mahasiswa. Karena itu, diskusi reguler ini dipandang penting untuk memperkuat pemahaman dasar, membangun kesadaran, serta menciptakan ruang belajar yang ramah bagi seluruh anggota PIKMA Wiralodra.
Kegiatan difasilitasi oleh Citra Amanda, salah satu vocal point PLK dan ketua umum PIKMA Wiralodra. Ia memandu seluruh rangkaian acara yang dibagi menjadi beberapa sesi untuk memastikan bahwa peserta dapat berdiskusi secara mendalam namun tetap berada dalam suasana yang nyaman. Kegiatan dibuka dengan penjelasan mengenai maksud dan tujuan diskusi, yaitu menghadirkan ruang aman bagi anggota untuk menyampaikan pengalaman, hambatan, dan kondisi lingkungan kampus yang mereka hadapi.
Sesi pertama diawali dengan kegiatan perkenalan antara pengurus, anggota lama, dan anggota baru. Langkah ini bertujuan menciptakan suasana yang lebih akrab agar anggota baru dapat beradaptasi dengan lingkungan organisasi. Keterlibatan aktif mereka penting agar dinamika diskusi berjalan hangat dan inklusif.
Sesi berikutnya adalah diskusi kelompok kecil. Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok yang terdiri dari campuran anggota lama dan anggota baru. Setiap kelompok diberikan studi kasus terkait permasalahan umum yang terjadi dalam organisasi mahasiswa. Studi kasus tersebut meliputi perbedaan pendapat antaranggota, tantangan meningkatkan motivasi anggota baru, komunikasi internal yang kurang efektif, hingga kesulitan menjaga komitmen dalam pelaksanaan kegiatan.
Melalui proses diskusi kelompok, peserta didorong untuk mengidentifikasi akar masalah dan merumuskan solusi yang realistis. Beragam perspektif muncul karena setiap peserta membawa pengalaman dan latar belakang yang berbeda. Proses ini memberikan ruang bagi peserta untuk melihat masalah organisasi secara lebih objektif dan terstruktur.
Setelah sesi diskusi, setiap kelompok mempresentasikan hasil pembahasannya. Dalam sesi ini, peserta menyampaikan strategi pemecahan masalah serta kebutuhan fasilitas atau dukungan yang mereka harapkan dari kampus. Meski tanpa kutipan langsung, penyampaian mereka menyoroti sejumlah aspek penting dalam manajemen organisasi, seperti perlunya kejelasan struktur internal, peningkatan komunikasi antaranggota, serta penguatan kapasitas kepemimpinan.
Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan rangkuman hasil diskusi, penyerahan sertifikat kepada peserta, serta foto bersama. Kegiatan berlangsung kondusif dan mencerminkan semangat kolaboratif dalam mewujudkan ruang aman bagi orang muda.
Namun, beberapa tantangan turut dicatat dalam pelaksanaan kegiatan. Tantangan utama adalah perlunya penguatan isu HKSR bagi anggota baru PIKMA, mengingat sebagian besar peserta masih berada pada tahap awal pemahaman. Selain itu, kegiatan diharapkan dapat terus dilaksanakan secara rutin dengan tema yang lebih spesifik agar pembahasan isu HKSR dapat lebih mendalam dan aplikatif.
Diskusi Reguler ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kapasitas organisasi mahasiswa sekaligus membangun budaya kampus yang lebih responsif terhadap kebutuhan orang muda. Dengan pembekalan HKSR dan manajemen organisasi yang lebih baik, PIKMA Wiralodra diharapkan mampu menjadi pusat edukasi dan ruang aman bagi mahasiswa untuk berkembang, berkolaborasi, dan berkontribusi dalam menciptakan komunitas kampus yang sehat dan inklusif.***







