“Perempuan bukan properti laki-laki. Perempuan punya hak dan kebebasannya sendiri!”
Sepenggal dialog yang disuarakan dengan lantang oleh peran Ibu dalam pementasan kabaret yang disajikan di kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP).
Kabaret ini menceritakan seorang suami yang melakukan kekerasan dalam bentuk fisik dan verbal kepada istrinya. Tidak hanya itu, suami juga melakukan penelantaran ekonomi terhadap keluarganya.
Kampanye 16 HAKTP yang diselenggarakan di Aula Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung tidak hanya menampilkan pentas seni berupa kabaret, tetapi juga penampilan seni lainnya yang menghibur dan sarat akan pesan.
Salah satunya pembacaan puisi oleh peserta, yang tentu saja menyiratkan pesan “Lawan Kekerasan terhadap Perempuan”.
Perempuan-perempuan yang tergabung dalam komunitas Bale Istri itu bukanlah seniman, seperti Regina José Galindo atau Yoko Ono. Mereka hanya ibu rumah tangga yang membantu sesamanya agar terhindar dari kekerasan.
Komunitas Bale Istri menganggap seni sebagai media yang efektif dalam penyampaian pesan “Anti Kekerasan terhadap Perempuan”. Pasalnya, melalui seni masyarakat selain terhibur oleh pertunjukan yang diberikan juga mendapat pesan yang tersirat.







