Indramayu – Upaya menciptakan lingkungan kampus yang aman, sehat, dan ramah orang muda terus dilakukan di Universitas Wiralodra, Indramayu. Pada Sabtu (18/1/2025), Yayasan Sapa dengan dukungan Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI) menggelar kegiatan Diskusi Reguler bertema “Bersama Membangun Organisasi yang Aman dan Sehat untuk Generasi Berkualitas” di Auditorium Universitas Wiralodra. Kegiatan tersebut menjadi forum penting untuk memperkuat kapasitas organisasi mahasiswa sekaligus memperluas informasi mengenai Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR).
Kegiatan ini dihadiri sekitar 30 orang muda anggota UKM PIKMA Wiralodra dan perwakilan Yayasan Selendang Puan Dharma Ayu. Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian program Right Here Right Now (RHRN2), yang sejak 2022 hingga 2024 berfokus pada peningkatan pengetahuan dan kesadaran HKSR di kalangan orang muda Indramayu.
Field Officer Yayasan Sapa menyampaikan bahwa data BPS menunjukkan tingginya populasi muda di Kabupaten Indramayu. Tahun 2022, sebanyak 309.360 penduduk berada pada rentang usia 20–29 tahun. “Jumlah ini adalah potensi sekaligus tantangan. Ketika informasi mengenai kesehatan reproduksi minim, risiko yang dihadapi remaja semakin besar, seperti kehamilan tidak diinginkan, perkawinan anak, kekerasan dalam pacaran, hingga kekerasan seksual,” ujarnya dalam sesi pembukaan.
Ia menambahkan bahwa pembahasan HKSR kerap dianggap tabu, baik di keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Stigma tersebut membuat orang muda sulit memperoleh informasi yang benar. “Padahal pengetahuan HKSR sangat penting untuk melindungi diri, membangun relasi sehat, dan membuat keputusan yang bertanggung jawab,” ujarnya.
Diskusi berlangsung interaktif. Pada sesi menggali masalah, para peserta menceritakan berbagai situasi yang sering mereka hadapi dalam organisasi, mulai dari kurangnya manajemen internal, absennya SOP terkait pencegahan kekerasan seksual, hingga tantangan melibatkan anggota baru dalam kegiatan positif. Beberapa mahasiswa juga mengakui masih banyak anggota organisasi yang tidak memahami batas-batas interaksi sosial yang sehat.
Salah satu peserta dari PIKMA Wiralodra mengungkapkan, “Kadang kami melihat perilaku yang tidak pantas di lingkungan kampus, tapi bingung harus lapor ke mana atau bagaimana menanganinya. Kegiatan seperti ini membuat kami sadar bahwa organisasi harus punya mekanisme perlindungan.”
Menanggapi hal itu, narasumber dari Yayasan Selendang Puan Dharma Ayu menekankan pentingnya komitmen internal organisasi untuk mencegah kekerasan seksual. Ia menyampaikan bahwa kampus bukan hanya ruang akademik, tetapi lingkungan sosial yang harus bebas dari kekerasan dalam bentuk apa pun. “Organisasi mahasiswa harus menjadi ruang aman. Jika ada relasi kuasa yang tidak sehat, potensi terjadinya kekerasan semakin besar. Oleh karena itu, penting membangun sistem perlindungan sejak dini,” terangnya.
Selain isu kekerasan seksual, peserta juga diberikan penguatan mengenai manajemen organisasi, termasuk perencanaan program, komunikasi efektif, dan pembagian peran. Materi tersebut penting bagi anggota baru agar dapat berkontribusi aktif dalam program kampus maupun kegiatan kemasyarakatan.
Pada sesi klarifikasi dan feedback, fasilitator memberikan umpan balik terhadap pemetaan masalah yang dilakukan peserta. Ia menekankan bahwa setiap organisasi mahasiswa perlu memiliki code of conduct, sistem pelaporan yang jelas, dan pengetahuan HKSR yang memadai. “Organisasi tanpa nilai dan aturan hanya akan berjalan secara spontan dan rentan konflik. Orang muda perlu dilibatkan dalam merumuskan kebijakan internal agar mereka merasa memiliki dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Diskusi diakhiri dengan sesi refleksi dan rencana tindak lanjut. Peserta menyepakati pentingnya menyusun panduan internal organisasi yang lebih kuat, termasuk mekanisme pencegahan kekerasan seksual. PIKMA Wiralodra juga berencana melanjutkan kegiatan edukasi HKSR secara berkala sebagai bagian dari agenda organisasi.
Kegiatan ini menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun budaya kampus yang aman dan inklusif di Universitas Wiralodra. Dengan semakin banyaknya mahasiswa yang memahami HKSR, diharapkan situasi yang selama ini dianggap tabu dapat dibahas secara lebih terbuka, sehat, dan bertanggung jawab.
“Kami ingin kampus menjadi ruang aman bagi semua orang muda. Pengetahuan HKSR bukan hanya tentang kesehatan, tetapi juga tentang martabat, kesetaraan, dan masa depan generasi muda,” tutup fasilitator dalam sesi penutupan.***







