Diskusi Reguler Bahas Komunitas Aman dan Nyaman, Orang Muda Dorong Ruang Belajar yang Lebih Sehat di Indramayu

  • Whatsapp

Indramayu – Upaya membangun komunitas yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan orang muda kembali digulirkan melalui kegiatan Diskusi Reguler bertema “Membangun Komunitas yang Aman dan Nyaman Bagi Orang Muda” yang dilaksanakan pada Kamis, 27 Februari 2025 di Taman Cimanuk, Kabupaten Indramayu. Kegiatan ini diprakarsai oleh Yayasan Selendang Puan Dharma Ayu bersama Yayasan Sapa dengan dukungan Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI). Diskusi diikuti 15 orang muda dari berbagai komunitas di Indramayu.

Peserta yang hadir berasal dari beragam latar belakang, termasuk PLK Desa Kenanga, PLK Desa Tugu, PLK Desa Malang Semirang, PIKMA Wiralodra, PLK Politeknik Negeri Indramayu, serta komunitas orang muda Desa Majasih. Kehadiran peserta lintas desa dan lembaga ini menunjukkan besarnya minat orang muda untuk terlibat dalam ruang diskusi yang relevan dengan kebutuhan mereka.

Kegiatan ini menjadi rangkaian dari upaya memperkuat pengetahuan dan pemahaman Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), yang sejak beberapa tahun terakhir menjadi perhatian utama Yayasan Sapa bersama mitra program. Berdasarkan data BPS Kabupaten Indramayu, penduduk usia 20–29 tahun mencapai 309.360 jiwa pada 2022, menjadikan kelompok orang muda sebagai populasi terbesar. Dengan jumlah sebesar itu, berbagai persoalan terkait HKSR dan kesejahteraan remaja menjadi tantangan yang perlu ditangani secara serius. Temuan Analisis Situasi (Ansit) 2021 dan FGD orang muda 2022 mengidentifikasi isu seperti kehamilan tidak diinginkan, perkawinan anak, kekerasan dalam pacaran, kasus HIV/AIDS, hingga kekerasan seksual sebagai masalah yang terus muncul di Indramayu.

Permasalahan-permasalahan tersebut muncul karena pembahasan HKSR masih dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat. Orang muda sering tidak mendapatkan ruang yang aman untuk membicarakan isu-isu sensitif terkait kesehatan reproduksi, relasi sehat, maupun perubahan tubuh pada masa pubertas. Selain itu, rendahnya literasi HKSR di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, ditambah belum adanya kebijakan komprehensif serta minimnya anggaran yang mendukung pemenuhan HKSR, membuat persoalan semakin kompleks.

Kegiatan Diskusi Reguler ini dirancang sebagai upaya lanjutan untuk memperkuat kapasitas orang muda dalam memahami isu-isu tersebut serta memberikan ruang partisipasi bermakna. Kegiatan difasilitasi oleh Agni Mufliha, field officer Yayasan Selendang Puan Dharma Ayu. Sesi utama berupa FGD mengenai peluang orang muda dalam berwirausaha, menghadirkan seorang patriot desa sekaligus petani melon Fujisawa dari Majasih. Dalam sesi ini, peserta mendapatkan gambaran mengenai minimnya minat orang muda pada dunia pertanian dan bagaimana teknologi serta digitalisasi seharusnya menjadi peluang besar untuk meningkatkan produktivitas. Diskusi juga membahas pentingnya adaptasi dengan tren baru, kemampuan berinovasi, serta bagaimana sektor pertanian dapat menjadi bidang yang menjanjikan jika dikelola dengan perspektif modern.

Usai FGD, kegiatan dilanjutkan dengan refleksi PLK terkait pelaksanaan program dan kesiapan menyusun agenda kegiatan RHRN2 untuk tahun 2025. Masing-masing PLK diharapkan mampu merancang program dan jadwal yang relevan dengan kebutuhan komunitas mereka, khususnya terkait penguatan pengetahuan HKSR dan ruang aman bagi orang muda.

Kegiatan ditutup dengan rangkuman hasil diskusi, penyerahan sertifikat, dan sesi foto bersama. Secara keseluruhan, diskusi berjalan dinamis karena peserta berasal dari komunitas yang berbeda namun memiliki keprihatinan serupa terhadap minimnya ruang edukasi dan perlindungan bagi remaja.

Namun, kegiatan ini juga mencatat beberapa tantangan. Pemahaman anggota baru terhadap isu HKSR masih dinilai belum kuat, sehingga pendampingan lanjutan diperlukan agar mereka dapat berkontribusi secara lebih maksimal. Selain itu, keterlibatan peserta masih terbatas karena beberapa orang muda memiliki jadwal sekolah atau kuliah yang berbenturan dengan kegiatan.

Sebagai rencana tindak lanjut, penyelenggara mendorong pelaksanaan diskusi reguler yang lebih spesifik di masa mendatang. Pendekatan tematik dianggap penting agar setiap isu dapat dibahas lebih mendalam, mulai dari relasi sehat, perlindungan dari kekerasan, hingga peluang pemberdayaan ekonomi bagi remaja.

Kegiatan ini diharapkan menjadi bagian dari gerakan lebih luas untuk mewujudkan komunitas yang aman, inklusif, serta mendukung perkembangan orang muda di Indramayu. Ruang dialog seperti ini diyakini dapat membantu mengatasi berbagai persoalan HKSR yang selama ini terabaikan dan membangun generasi muda yang lebih sadar, adaptif, dan berdaya.***

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *